02883 2200337 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082001000122084001600132100002700148245016700175250001400342300004600356650002100402700003500423700002200458700003600480504002200516505003400538520177800572264003002350336002102380337003002401338002302431856004102454990002502495990002502520INLIS00000000002336720260119095813 a0010-0126000083ta260119 g 0 ind  a978-602-383-201-9 a363.3 a363.3 SIT c0 aSiti AminahePengarang1 aCarok :bPraktik kekerasan hegemonik dalam kontestasi kuasa di ranah sosial-kultural dan politik /cSiti Aminah, Toetik Koesbardiati, Roikan, Alfen Lucky Hartanto aCetakan 1 axviii, 146 halaman :bilustrasi ;c21 cm. 4aKEKERASAN SOSIAL0 aToetik KoesbardiatiePengarang0 aRoikanePengarang0 aAlfen Lucky HartantoePengarang aHalaman 133 - 140 aGlosarium : halaman 141 - 143 aBuku ini menyampaikan pesan tentang perlu dan pentingnya membangun kultur perdamaian yang bermuatan nilai-nilai budaya lokal yang diprak-tikkan etnik Madura. Untuk memahami carok tidak lepas dari lensa kultur etnik Madura. Pada awalnya, (sejarah) carok adalah kekerasan langsung yang merupakan perilaku yang mengancam kehidupan individu, kemudian bergeser menjadi kekerasan tidak langsung. Carok/nyelep sebagai kekerasan kultural yang mewakili keberadaan norma-norma sosial/kultural yang berlaku atau menonjol yang menjadikan kekerasan langsung dan struk-tural tampak seakan-akan alamiah atau benar atau setidaknya dapat diterima oleh masyarakat. Carok merupakan wujud dari kekerasan kultural yang saat ini beradu dengan kekerasan struktural-politik untuk merebut kekuasaan atau posisi formal dalam struktur politik dari para pelakunya. Dalam kekerasan carok, ada representasi dari kekuatan-kekuatan yang saling bersinggungan (blater, individu, tokoh-tokoh informal) dan ada penempatan untuk memberi-kan penghormatan pada tiga representasi aktor dalam tradisi budaya etnik Madura (guru, orang tua, dan pejabat publik). Perkembangan carok sejak tahun 1980-an sudah bergeser sebagai tindakan kekerasan yang disebut 'nyelep', tidak bersifat individual, bisa juga berubah menjadi carok kolektif, tidak hanya memuat dimensi kultural, namun sosial dan politik. Rentang isu mulai dari menjaga harga diri, kehormatan mulai dari individu/personal, perempuan sampai pada kontestasi kekuasaan. Bertitik tolak dari muatan yang terkandung dalam buku ini mampu memaknai berbagai fenomena faktual yang dianalisis dengan sudut pandang baru, maka buku ini akan niscaya untuk digunakan sebagai pegangan dan rujukan bagi para civitas academica, budayawan, praktisi, hingga masyarakat umum. aJakarta :bPrenada,c2024 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraVolume aPerpustakaan Umum Daerah Kota Kediri a51086/PU-KDR/PB/2025 a51087/PU-KDR/PB/2025