02079 2200301 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082001200122084001800134100003000152245012300182250001500305300004600320650001600366700003100382505002200413264003400435336002100469337003000490338002300520856004100543520114300584990002501727990002501752INLIS00000000002345020260205105341 a0010-0226000023ta260205 g 0 ind  a978-602-412-423-6 a809.382 a809.382 MOH u0 aMohammad HattaePengarang1 aUntuk negeriku : Bukittinggi - Rotterdam lewat Betawi :bSebuah otobiografi /cMohammad Hatta ; editor, Mulyawan Karim aCetakan 11 axliv + 324 halaman :bilustrasi ;c21 cm. 4aOTOBIOGRAFI0 aMulyawan KarimePenyunting aHalaman 315 - 323 aJakarta :bBuku Kompas,c2024 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraVolume aPerpustakaan Umum Daerah Kota Kediri aSaat aku duduk di kelas III, Pak Gaekku akan pergi ke Mekkah dan aku akan dibawanya menurut ren-cana yang sudah ditetapkan. Tetapi, beberapa ming-gu sebelum berangkat, ada desakan dari ibuku dan pamanku, supaya jangan aku yang ikut serta, melain-kan pamanku yang bungsu, Idris. Aku dianggap terlalu muda untuk pergi ke Mekkah, sedangkan pengajian Al Quran belum tamat. Menurut pamanku, lebih baik aku tamat sekolah dulu. Sesudah khatam Quran dan mulai mengaji Nahu dengan mengerti sedikit-sedikit bahasa Arab, barulah pergi ke Mekkah dan kemudian ke Kairo. Alasan itu diterima oleh Pak Gaekku dan ia berangkat ke Mekkah dengan Idris, pamanku. Ayah Gaekku di Batuhampar tidak setuju dengan perubahan rencana itu, tetapi sebagai seorang ahli tarekat, akhirnya ia mengalah juga. "Ini barangkali sudah takdir Allah," katanya. Tetapi, ia selalu berharap supaya didikanku betapa juga berbelok-belok jalannya, akan berakhir di Al Azhar. "Ikhtiar dijalani, takdir menyudahi," katanya lagi. la dapat menghargai "pengetahuan dunia", tetapi pengetahuan agama lebih besar nilainya. Masyarakat hanya dapat menjadi baik dengan bimbingan agama. a51247/PU-KDR/PB/2025 a51248/PU-KDR/PB/2025